Selasa, 26 Juli 2011

Salam dan bahagia...
Taman Madya, ya... itulah perguruanku. Sebuah  kebanggaan tersendiri bagiku pernah berada di TMIP, Tamansiswa Yogyakarta yang telah mendidik dan menggembleng aku menjadi seperti sekarang ini. Meski aku sekarang belum menjadi orang besar ataupun tenar. Aku hanya mampu mengucapkan terima kasih kepada bapak ibu pamong atas jasa-jasa mereka yang tiada tara demi anak didiknya. Kerinduanku pada beliau semua membuatku selalu bersemangat dalam mengambil setiap langkah dan tindakan.Baik itu dalam alam nyata maupun dalam dunia maya.Dalam suka dan duka, dalam terang maupun gelap.(Rasane kangen banget)
Pak Sugeng Subagya, pak Bagyo, pak Murni Rahwinarto, pak Marjono, pak Tanto, pak Totok, pak Amin, bu Rais, bu Ambar, bu Endang, bu Bekti, bu Kamti, bu Maya, pak Basuki, pak Martono, pak Dewo, pak Dion, pak Sudi Rahmanto, pak Tri, bu Made, pak Widodo, bu Tutik, pak Hargo, bu Atun, pak Khamijo dan lain-lainnya Kalian semua akan selalu menghiasi dalam kenangan sejarah hidupku di masa lalu.(Karo mbayangke wajah-wajah bapak-ibu)


Berusaha menjalani hidup untuk menjadi manusia yang "Selangkah Lebih maju", seperti pesan Bp. Sugeng Subagya di TMIP pada upacara bendera adalah, sangat di butuhkan dan di perlukan dalam mengarungi hidup ini.Meski kata-kata itu sudah  beberapa tahun lalu ketika masih dalam perguruan, tapi akan selalu ku ingat.(wektu kui pak Sugeng pidato nganggo klambi safari coklat, pas jaman henpon anyaran, henpon pak sugeng pas anyar)

Di mana aku berada hari ini, akibat kemarin aku ada di sana.Bagiku, hidup itu sederhana, kita memilih dan kita menjalani atas pilihan kita dan jangan pernah menyesalinya.Semua manusia pasti akan mati dan beralih ke kehidupan yang lain. Aku mengibaratkannya seperti hukum kekekalan energi yang pernah di ajarkan ibu guru kimia, bu Bekti, "Energi tidak dapat di ciptakan maupun di musnahkan, Enenrgi hanya dapat berubah bentuk".Setelah manusia mati, maka akan beralih ke kehidupan yang lain.
Banyak diantara teman-teman alumni seangkatan yang mungkin merasa malu dengan perguruan mereka. karena apa ?... aku pun tak tau. Malu atau tidak malu, haruslah di terima bahwa itu semua adalah bagian dari sejarah kisah masa lalu. Apakah sejarah masa lalu yang sudah terlewati dapat kita rubah ?... Tidak sama sekali.. Dimana kita berada hari ini, akibat kemarin kita ada di sana. Kita dapat saling mengenal, berjumpa dan merindukan, karena kita sama-sama pernah berada di sana.(nek neng fesbuk do malsu skolah SMA  hihihihii ...)

Rendah hati, tapi bukan rendah diri, itulah ajaran Tamansiswa.Masihkah ingat pelajaran itu ?.... Mawas diri ?.... Integrita pribadi ?.... Bu Rais ?....Budi Pekerti & Ketamansiswaan ?....(po iseh do apal toh ?..hihihihihi ..)
Ketika masih di dalam perguruan, mungkin kita tidak menyadari ajaran Tamansiswa dengan serius. Namun setelah lepas dari sana aku pribadai sangat mengakui dan menyadari bahwa kehebatan ajaran Tamansiswa sangatlah berguna untuk saat ini. Hingga semua ajaran-ajaran Tamansiswa tulisan pak Sugeng Subagya, mantan kepala sekolahku dulu, aku obrak-abrik, aku salin semua dalam catatan ini.Ya... untuk menuju selangkah lebih maju. (wong getun tibo mburi)
Kini aku hanya mengenang apa yang dulu bisa ku kenang, mengenang kebersamaanku bersama teman-temanku, bercanda dengan penjual-di kantin, Menggoda dan jahil pada pak satpam,Khamijo, dan mengenang pesan-pesan bijak serta nasehat bijak para bapak ibu pamong.Sekarang aku mengakui bahwa dulu aku sering menertawakan pak Basuki (Bahasa Inggris) di kelas namun, mungkin setelah habis jam pelajaran, pak Basuki tersenyum pada semua murid di kelas.


 
Sesuai kata orang bijak yang pernah ku dengar, "Siapa yang tertawa paling ahir, dialah yang menang". Ya... inilah kekalahanku, kalah telak !.... Bahasa Inggris yang dulu di berikan secara ikhlas oleh beliau, tidak aku terima dengan sungguh-sungguh. Mentahpun tidak, matang pun jua tidak, bahasa Inggris yang kemampo! ...
( kelingan dusoku ra pak basuki.)
   Biso-o rumongso, ojo rumongso biso

Yang jelas, ajaran Tamansiswa sangat berarti, berguna, bermanfaat dan terbukti ke ampuhannya dalam menggapai selangkah lebih maju yang jitu. Sekarang aku sudah berkeluarga dan memiliki 2 putra, sudah menjadi ING NGARSA SUNG TULODHO bagi keluargaku tercinta.Karena kelak, aku ingin di kenang baik dan indah oleh anak-anakku, seperti aku mengenang baik dan indah pula pada alm. papa ku tercinta.Amiin .....

Di tengah-tengah hidup berkeluarga dan kemasyarakatan pula ING MADYA MANGUNKARSA di perlukan untuk membangun keluarga sakinah, mawadah waromah dan memajukan tempat tinggalku, agar suasana menjadi nyaman, tenteram , aman dan terkendali. Amiin.....

Yang terahir , TUT WURI HANDAYANI , semoga para adik-adik kelas / adik-adik alumni TMIP, Tamansiswa Yogyakarta tercinta dapat meraih lagi jaman keemasan seperti waktu  ku dulu. Jangan menunda apa yang bisa di kerjakan hari ini, waktu terus berputar dan berganti. Kesempatan tidak akan datang pada orang yang malas. Seorang manusia tidak akan sanggup mengalami seluruh/segala macam kesalahan di muka bumi ini karena, terbentur usia . Satu bukti kesalahan yang sudah dialami seseorang adalah cukup di jadikan contoh. Ambil apa yang bermanfaat dan tinggalkan serta buang yang tidak bermanfaat. Niteni, Nirokake, Nambahi seperti yang sudah di ajarkan Ki Hajar Dewantara di Tamansiswa.

Majulah terus perguruanku. Terima kasih atas segala macam bentuk perjuangan bapak-ibu pamong yang saya sayangi, saya pribadi atas nama, Ali Hasan Efendi mohon maaf yang sedalam-dalamnya atas dosa, salah dan khilaf yang disengaja maupun tidak. Semoga menginspirasi.......
Viva TMIP, Tamansiswa Yogyakarta.

http://a-lee-tutorial.blogspot.com/
/http://resepmasakan-alee.blogspot.com/
http://kohleedjocdja.wordpress.com/
/http://mistericulture.blogspot.com/
http://hukumperaturan.blogspot.com/
http://alumnitmipyogyakarta1997-2000.blogspot.com/


Salam.....

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Printable Coupons